Hukum

Ada Apa dengan Eksekusi dan Asimilasi Anggota Club Motor Harley Davidson

Kasipidum Kejari Bukittinggi, Budi Sastera

Bukittinggi – Terpidana anak, Bambang Septian Ahmad R (16), anggota Club’ Motor Harley Davidson Owners Group (HOG) Siliwangi Bandung Chapter (SBC) yang sebelumnya terlibat dalam kasus penganiyaan secara bersama-sama terhadap 2 orang anggota Intel Kodim 0304/Agam, kini bebas bersyarat.

Eksekusi dan Asimilasi yang dilaksanalan di Lapas Biaro Bukittinggi terhadap Bambang menyisakan banyak pertanyaan termasuk aparat Kodim 0304/Agam. Berdasarkan narasumber (yang  tidak mau disebutkan nama) mengatakan bahwa eksekusi dan asimilasi tersebut menjadi tanda tanya pihak Kodim 0304/Agam.

Akibat hal tersebut, pihaknya berlanjut mengadakan pertemuan-pertemuan dengan  pihak Korem 032/Wirabraja, Kodim 0304/Agam, Lapas Biaro Bukittinggi, Polres Bukittinggi dan Kejaksaan Negeri Bukittinggi.

Dalam kasus ini diduga, pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Bukittinggi tidak menjalankan Amar Putusan Pengadilan Negeri (PN) Bukittinggi, Kelas IB, yang terjadi pada hari Kamis, tanggal 3 Desember 2020, yaitu mengeksekusi Bambang ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIB, di Tanjung Pati, Sumatera Barat.

Sementara pihak Kejari Bukittinggi, hanya mengeksekusi Bambang ke Lapas Kelas IIA, Biaro Bukittinggi dengan pertimbangan lokasi dan jarak tempuh dekat agar mempermudah dijadikan sebagai saksi dalam persidangan rekannya yang usia dewasa.

Menurut Kepala Seksi Pidana Umum, Kejari Bukittinggi, Budi Sastera yang ditemui pada hari Selasa, 12/01/2021 diruang kerjanya, mengatakan, “Kejaksaan sudah menjalankan Putusan Pengadilan sesuai dengan ketentuan, mempunyai keputusan yang sudah tetap dan tidak ada lagi upaya hukum. Pertimbangan menempatkan di LP Biaro itu tidak lain karena si Bambang akan dijadikan sebagai saksi diperkara rekannya yang dewasa. Sedangkan, lanjut Budi, perkara rekannya yang dewasa belum selesai proses pemeriksaan dipersidangan.”

Nah, pelaksanaan eksekusi di LP Biaro itu tidak ada yang salah karena kita menjalankan sesuai dengan ketentuan, berdasarkan surat perintah eksekusi, ada berita acara eksekusi juga diterima oleh pihak LP, ujar Budi.

“Memang tempatnya di LP Tanjung Pati, tapi kita sifatnya eksekusi sementara, karena anak ini masih diperlukan sebagai saksi di perkara yang dewasa,” tegasnya.

Ketika ditanya wartawan, sejak kapan proses eksekusi Bambang di LP Biaro? Budi menjawab, sejak tanggal 21 Desember 2020 yang dipindahkan dari rumah tahanan Polres Bukittinggi.

Lalu, apakah selama di LP Biaro, saudara Bambang pernah menjadi saksi dalam perkara rekannya yang dewasa? Budi menjawab, belum pernah. Kalau proses pemeriksaan dipersidangan sudah selesai, pasti kita eksekusi ke LP Tanjung Pati.

Kalapas Biaro Bukittinggi, Marten

Sisi lain, dalam perkara yang sama, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA, Biaro Bukittinggi, Marten saat ditemui sejumlah wartawan diruang kerjanya, pada hari Selasa, 12/01/2021, menjelaskan bahwa Terpidana anak, Bambang Septian Ahmad R (16), telah mendapatkan surat pengeluaran dan pembebasan bersyarat/asimilasi sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 10 Tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi Bagi Narapidana dan Anak Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran COVID-19. (Permenkumham 10/2020) dan sesuai Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak Melalui Asimilasi dan Integrasi Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran COVID-19. (Kepmenkumham 19/2020).

Hal ini sebagai upaya pencegahan dan penyelamatan narapidana dan anak yang berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) dari penyebaran COVID-19, upaya ini dilaksanakan pengeluaran dan pembebasan melalui asimilasi dan integrasi.

“Yang mau saya luruskan, saat ini tentang rumornya terpidana dianggap belum menjalani pidana sesuai dengan ketentuan. Padahal kita semua tau bahwa kejadian tanggal 30 Oktober 2020 dan ditangkap tanggal 30 Oktober 2020 juga. Tanggal 1 November 2020 mereka sudah ditahan sebagai Tersangka oleh Penyidik dan menjadi tahanan Polres Bukittinggi, tahanan Jaksa, tahanan Pengadilan hingga mendapatkan amar putusan 3 bulan dan 15 hari, dipotong masa tahanan.” katanya.

Artinya apa, masa tahanan itu harus dihitung sejak ditahan, bukan saat keluar amar Putusan Tetap di Pengadilan. Justru sejak jadi tahanan Polres. Jadi kalau kita hitung tidak putus-putus dari tanggal 1 November 2020 itu hingga tanggal 29 Desember 2020, dia sudah lewat 1/2 masa pidana dan berhak mendapat asimilasi dari LP Biaro, sesuai dengan aturan Permenkumham 10/2020 dan Kepmenkumham 19/2020.

Asimilasi untuk narapidana dan anak dilaksanakan di rumah dengan pembimbingan dan pengawasan Balai Pemasyarakatan. Dan Pemberian asimilasi narapidana anak ini harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku, ucap Marten.

Ki-ka: Kepala LPKA, Tanjung Pati, Heru dan Kepala Seksi Registrasi, LPKA, Tanjung Pati, Agus

Sisi lain, berdasarkan keterangan Petugas LPKA Kelas IIB, di Tanjung Pati, Bambang tidak pernah teregister. Hal ini ditegaskan oleh Kepala LPKA Kelas IIB, Tanjung Pati, Ronald Heru Praptama, saat didampingi Kepala Seksi Registrasi LPKA Kelas IIB, Tanjung Pati, Agus diruang kerjanya, pada hari Selasa, 12/01/2021.

“Hingga saat ini, tidak ada atas nama Bambang Septian Ahmad teregister, yang infonya akan dieksekusi oleh pihak Kejaksaan Bukittinggi,” kata Heru panggilan Ronald Heru Praptama.

Sementara itu, perkembangan 4 orang rekan Bambang yang tergabung dalam HOG SBC yakni MS (49), JAD alias D (26), RHS (..) dan TTR alias TTG (33) yang terlibat kasus, masih dalam proses persidangan di PN Bukittinggi. (rir)