Headline

Agribisnis Minyak Atsiri Layak Jadi Industri Besar di Solok

Detaksumbar.com- Besarnya potensi pasar minyak atsiri di Indonesia bahkan di mancanegara belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat, pelaku bisnis bahkan pemerintah. Padahal menurut Djanuardi, (64) biasa dipanggil Edi, Ketua Kelompok Tani Agribisnis Atsiri Kota Solok mengatakan, “Minyak atsiri adalah salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi, biaya produksi murah, mudah dalam pengolahan serta meningkatkan pendapatan daerah. Kota Solok bisa menjadi kota industri besar agribisnis penghasil minyak atsiri setingkat nasional. Secara geografis, iklim, lahan dan tenaga trampil sudah dimiliki di Kota Solok ini.” tambah Edi. (25/11)

Minyak atsiri yang dikenal dengan minyak essensial/minyak terbang atau lebih dikenal minyak aromatic berasal dari berbagai macam tanaman yang mudah tumbuh disekitar kita. Tanaman penghasil minyak atsiri yang sering dibudidayakan oleh petani diantaranya, tanaman sereh wangi, sereh dapur, cengkeh, nilam, akar wangi, kayu putih, cendana, kenanga dan buah pala.

Ditinjau dari segi pengolahan, hanya menggunakan peralatan yang murah, mudah dan sederhana, tanpa memiliki keahlian khusus, olahan minyak atsiri dapat dikerjakan oleh semua orang. Sehingga tanaman sereh wangi yang diproduksi oleh petani Solok setelah melalui proses penyulingan, dapat menghasilkan lebih dari 45% kandungan cytronella. Sementara standar permintaan kualitas internasional harus memiliki 36% kandungan cytronella. Ini artinya kualitas minyak atsiri hasil petani Kota Solok adalah terbaik.

“Minyak atsiri berguna sebagai bahan campuran kosmetik dan obat-obatan diantaranya seperti untuk campuran parfum (pewangi), sabun mandi, obat gosok antiseptik, aroma therapy, penghemat BBM dan masih banyak lagi fungsinya.” Ujar Edi.

Atas dasar inilah, Edi yakin Industri Kecil Menengah (IKM) agribisnis minyak atsiri bisa digalakkan menjadi industri besar agribisnis di Kota Solok. Selain itu Edi menambahkan, “Jika pemerintah dapat membantu para petani minyak atsiri ini menjadi pelaku bisnis, maka akan semakin terbuka lebar lahan pekerjaan di Kota Solok.”

Ketika ditanya, bagaimana peran pemerintah kota Solok selama ini terhadap petani minyak atsiri? Edi menjawab, Pemerintah kota Solok melalui Dinas Pertanian serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan kota Solok cukup banyak membantu petani mulai dari hulu hingga ke hilir. Namun sayangnya, tambah Edi, Besar permintaan atau potensi pasar yang tidak ada habis habisnya seperti dari negara India dan China terhadap minyak atsiri ini tidak bisa dipenuhi oleh petani, sehingga perlu adanya produksi yang masif untuk memenuhi hal tersebut.

Ini artinya tutup Edi, pemerintah harus meningkatkan keseriusannya dalam membantu petani minyak atsiri dengan cara mendatangkan investor atau menyediakan teknologi tepat guna, lahan dan dana yang cukup besar untuk perkebunan serta pabrik pengolahan minyak atsiri di kota Solok.