Ekonomi

Bisnis Mobil Bekas Bukittinggi-Agam Drop Pasca Pandemi Covid-19

Showroom Mobil Bekas Auto Blitz, KM 3, Bukittinggi

Bukittinggi – Pandemi virus corona (COVID-19) masih menjadi alasan kekhawatiran global hingga saat ini. Bagaimana tidak, pandemi Covid 19 memporak-porandakan keberlangsungan setiap sektor kehidupan. Termasuk pelaku usaha mobil bekas menjadi salah satu sektor yang terdampak dari masa pandemi COVID-19.

Sejak masa pandemi COVID-19, penjualan mobil bekas turun drastis dan harga mobil bekas pun terjun bebas. Terasa semenjak pandemi covid-19 kita drop.

“Penurunan angka jual mobil bekas sangat jauh dari sebelumnya, kita rata-rata bisa jual 15-20 unit per bulan. Sekarang hanya tersisa sekitar 1% atau hanya sekitar 1-2 mobil saja per bulan. Untuk bisa jual 5 unit saja per bulan, showroom mobil bekas itu sudah hebat,” kata pemilik showroom mobil bekas Auto Blitz yang berada di Jl. Bukittinggi-Padang Luar KM 3, kepada detaksumbar.com, Sabtu, (24/10).

Pemilik showroom yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan, “Penurunan penjualan ini tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat akibat tidak menentunya kondisi pandemi. Sebab, prioritas saat ini masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan pokok.”

Tambahnya, penurunan penjualan juga berdampak pada jatuhnya harga mobil bekas yang sangat dalam disaat stok berlimpah. Bahkan disaat bersamaan masyarakat banyak menjual aset mobilnya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari ditengah krisis corona.

Sementara stok yang ada di showroom belum banyak terjual. Harga mobil bekas pun kini jatuh, rata-rata dikisaran Rp. 30 juta sampai 50 jutaan untuk mobil harga ratusan juta rupiah. “Mungkin sekarang waktunya pas untuk membeli mobil bekas, karena memang faktor permintaan pasar juga menurun. Sedangkan orang jual mobil bekas karena kebutuhan banyak. Harganya rata-rata turun Rp. 30 jutaan sekarang,” sebutnya.

Akibat permintaan yang terus turun, sejumlah mobil harus mengalami penurunan harga yang cukup tajam. Hal itu dilakukan demi tetap menarik minat masyarakat untuk tetap belanja.

“Turunnya bisa sekitar 30 jutaan, misal Kijang Innova 2015, showroom biasa jual normal Rp 190 juta, sekarang paling showroom menjual di Rp 155 juta. Lalu Honda Mobilio 2014 lumayan juga, biasa jual Rp 120-125 juta, sekarang paling Rp 80 juta,” ujarnya.

Namun showroom Auto Blitz menyarankan, sebaiknya bagi konsumen yang ingin membeli mobil bekas jangan lihat dari harga yang murah dan tahun pembuatan saja tapi lihat kondisi fisik dan mesin kendaraan secara keseluruhan. “Harga mobil murah tidak menjamin kondisi fisik dan mesin kendaraan bekas. Hal itulah yang selalu kita jaga kualitasnya di showroom ini. Jangan sampai setelah membeli, konsumen kecewa karena harus keluar banyak uang untuk perbaikan,” katanya.

Selain itu lanjutnya, faktor lain adalah pengetatan aturan dari perusahaan leasing atau pembiayaan. Ini karena dampak pandemi COVID-19 cukup memukul sektor pembiayaan karena permintaan yang turun drastis.

“Kami juga tergantung leasing. Biasanya leasing beri kelonggaran dari kredit itu sendiri. Sementara sekarang mereka ketat dengan segala macam regulasinya,” katanya.

Pengetatan yang dimaksud di antaranya dalam hal pembayaran down payment (DP). Biasanya leasing membolehkan pembeli untuk membayar uang muka dengan angka yang tergolong kecil, namun kini sudah tidak bisa.

“Biasanya sebelum pandemi covid-19, DP bisa Rp. 20 juta dan sampai Rp. 30 juta. Tapi sekarang tidak bisa lagi, sesuai aturan baru DP harus 40%-45% dari harga jual kendaraan. Proses kredit pengajuannya ketat sekali sekarang,” sebutnya.

“Biasanya Sabtu dan Minggu pagi ada yang tanya-tanya, lalu sorenya kita sudah siap-siap mengeluarkan mobil. Seperti beberapa hari kemarin, memang ada konsumen yang tanya-tanya, tapi belum ada transaksi. Terkadang pertimbangannya karena harga belum cocok dan uang belum cukup. Namun kita optimis saja, sebenarnya masih ada konsumen untuk beli mobil bekas,” tutupnya. (rir)