Opini

BUNUH DIRILAH!

Saya selalu membayangkan Sisifus hanya menggenggam batu kecil menuju puncak gunung. Lalu, melemparkannya lagi ke bawah. Mencari batu kecil tadi lagi di semak kaki gunung, membawanya ke puncak, terus melemparkannya ke bawah. Begitu hukuman, lebih tepatnya kutukan, yang harus dijalani putra raja Aelos dari Thessaly dalam mitologi Yunani itu. Albert Camus mendedahkannya dalam buku Le Mythe de Sisyphe atau Mite Sisifus yang terbit tahun 1942 dengan telaah absurditas.

Hari-hari ini di Padang, saya–mungkin juga kita–menemukan Sisifus di baliho, spanduk pinggir jalan, koran, media daring, dan media sosial. Para Sisifus itu sedang mendaki gunung yang disebut pemilihan walikota dan wakil walikota. Batu yang mereka bawa pun berbeda-beda besarnya, bahkan ada yang lebih besar dari tubuhnya. Dengan penuh semangat mereka membawa batu itu menuju puncak gunung, entah akan sampai atau tidak. Gairah yang muncul adalah keinginan untuk mengalahkan. Sehingga semuanya berpikir dan berlaku sama. Mulai dari yang paling muda, setengah tua, dan tua sekalipun, mengagungkan diri sebagai yang paling mampu membawa batu paling besar ke puncak gunung itu, mengelindingkannya ke bawah, lalu mengulangnya lagi.

Jika saja mereka membaca Camus, tentu mereka akan paham makna kutukan itu. Bukankah, tidak ada hukuman yang lebih berat dari kesia-siaan. Dan, kesia-siaan Sisifus bukan pada besar atau kecil batu yang dibawa, tapi pada pengulangan-pengulangan peristiwa yang sama. Makanya, saya selalu membayangkan ia hanya membawa batu kecil dalam genggamannya. Sebab, ia hanya sebagai pengingat, hidup sejatinya merupakan repetisi atas kegagalan.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengakhiri kutukan ini. Camus menganjurkan bunuh diri sebagai jalan melepaskan segala kesia-siaan tersebut. Tentu saja anjuran ini tidak mesti mengarah pada tindakan harfiah. Sebab bunuh diri sesuatu yang absurd, perihal yang jauh dari segala pengertian atau defenisi. Bunuh diri yang diinginkan Camus di sini adalah sebuah pemberontakan melawan kesia-siaan Sisifus dalam diri kita. Memang, Camus tidak sebrutal Nietschze, yang membunuh tuhan dan meneriakkannya di tengah pasar. Tapi, Camus berada di permulaan jalan untuk sampai pada manusia agung yang dibayangkan Nietschze tersebut.

Bagi para Sisifus yang sedang mendaki gunung Pemilihan Walikota dan Wakil Kota Padang, ada baiknya melakukan anjuran Camus ini. Bunuh dirilah! Artinya, memberontak serta membawa diri keluar dari “raso-raso ka lai” dan rasa paling mampu mengatasi permasalahan kota ini, yang bersemayam dalam pikirannya. Entah itu “raso” sebagai orang tua yang berpengalaman, orang muda yang darahnya sedang panas, atau sebagai ahli yang semua urusan harus diserahkan kepadanya. Dengan membunuh pikiran-pikiran seperti itu dalam dirinya, maka mereka akan kembali pada akal sehat. Sebab, akal yang sakit membawa kita pada keinginan di luar kendali diri yang sebenarnya.Lalu, bunuh diri seperti apa yang harus dilakukan oleh mereka yang berniat menjadi walikota dan wakil walikota Padang, termasuk petahana? Bunuhlah niat itu terlebih dahulu. Biarkan rakyat memunculkan pemimpinnya sendiri tanpa harus memaksa mereka untuk memilih, apalagi diiming-imingi. Apapun alasannya, barangkali, lebih baik habisi saja niat untuk mencalonkan diri tersebut. Sebab, pada kenyataannya, tidak harus menjadi penguasa untuk mengubah hidup sendiri dan orang banyak. Kita tidak kekurangan contoh-contoh inspiratif untuk menggerakkan masyarakat lebih maju tanpa harus menjadi penguasa.

Sisifus mengajarkan, kita tidak harus menghabiskan seluruh usia untuk menggapai hal yang tak bisa terwujud.  Ada impian atau keinginan yang tidak harus dicapai, sebab sengaja diciptakan terlalu jauh untuk dijangkau manusia yang terbatas. Jika terus dipaksakan, maka keinginan tersebut akan menjadi sumber penderitaan.

Pada akhirnya, manusia akan dipaksa untuk menyerah. Membuang segala impiannya, seperti mencampak batu yang telah dibawa susah payah ke puncak gunung itu. Di saat itulah kita membayangkan Sisifus sedang berbahagia. ***

Gusriyono, jurnalis dan sekretaris Komunitas Padang Membaca.