Headline

Hand Sanitizer Unand Sasar Kampung Nelayan, Prof Deddy: Isolasi 14 Hari Orang Masuk Sumbar Patut Dipertimbangkan

 

Padang,—-Aksi peduli IKA Unand terus berlanjut, hari ini hand sanitizer racikan Labor Farmasi Unand menyasar kelompok nalayan di Pasie Labor Air Tawar Padang.

Penyerahan hand sanitizer secara simbolis karena pembagian proteksi dini ke warga hadapi meruyaknya kuman Covid-19 tetap merujuk protokol kesehatan yakni jauhi kerumunan orang.

Perwakilan IKA Unand Prof Deddi Prima Putra Apt yang juga Rektor Unidha dan akademisi di FMIPA Unand mengedukasi Ketua RT setempat untuk disampaikan ke warganya. Prof Deddi sangat mampu menjelaskan dengan bahasa masyarakat tidak ilmiah membuat warga di pantai tersebut paham.

“Jan kalua rumah kalau indak penting bana, selalu cuci tangan dan jauhi kerumunan orang, karena virus ini tidak berwujud,”ujar Prof Deddi
Rabu 25/3 di Pasie Labor Air Tawar Padang.

Aksi bagi jand sanitizer untuk masyarakat nelayan dilakukan IKA Unand kembali dalam rangka gerakan bersama dan aksi serempak menghempang meruyaknya virus corona di Padang.

”Ambo berharap pak ketua RT terus ingatkan warganya untuk membatasi pertemuan phisik dengan banyak orang. Kalau ada yang Orang Daam Pantauan (ODP) di sini ayo bersama kita jaga dan beri semangat untuk sembuh. Karena kalau dikucilkan justru membuat korban tidak semangat dan pasrah, bisa menjadi Pasien Dalam Pemeriksaan (PDP) atau positif,”ujar Prof Deddi.

Tak hanya itu kepada media Prof Deddi juga mengajak untuk komit dan konsisiten dengan phisycal Distancing.

”Cara pasti putus rantai penyebaran dan sehat itu adalah rakhmat Allah yang tak ternilai, mohon masyarakat konsisten dengan physical distancing,”ujarnya.

Dan kepada pemerintah Sumbar kondisi nihil pasien postif corona virus sampai hari ini jangan anggap kita sudah aman.

”Justru dengan status PDP dan OPD belum positif itu adalah warning bagi pemerintah dan semua pihak untuk selalu mematuhi Protokol Kesehatan yang diterbitkan pemerintah,”ujarnya.

Pemprov Sumbar mesti bertindak strategis, taktis dan quicly merespon setiap embrio kasus corona yang terjadi di Sumbar.

”Jangan pendekatan kerja struktural mesti taktis dan strategis serta cepat, dan jadikan nol pasien positif di Sumbar menjadi model bantu Indonesia saat ini,”ujar Prof Deddi.

Kalau memang dipandang restriksi dan isolasi 14 hari orang masuk Sumbar untuk memutus sebaran virus kata Prof Deddi mengapa tidak dilakukan.

”Ada banyak properti pemerintah di bandara dan pelabuhan laut maupun di pintu masuk jalan darat ke Sumbar bisa diberdayakan untuk menerapkan ini, Pemerintah Sumbar tinggal ajukan permohonan ke Presiden,”ujarnya.

Sehat bersama di tengah Covid 19 sangat diperlukan sekali, karena begitu lengah dan ada pasien positif maka tidak pernah berhenti rumah sakit menerima pasien.

”Dan menangani kalau sudah begini justru lebih mahal lagi dibandingkan mempertahankan kondisi Sumbar saat ini,”ujar Prof Deddy. (rilis: hms/ikaunand)