Opini

Imajinasi Mati di Padang

Padang hari ini, sepertinya, dibangun tanpa imajinasi masa depan sebuah kota. Setidaknya dalam dasawarsa terakhir, imajinasi tentang masa depan sebuah kota itu nyaris tidak ada. Padang hanya dibangun berdasarkan selera masing-masing penguasa–untuk tidak menyebut hanya melanjutkan kerja penguasa sebelumnya. Masih untung penguasanya punya  selera, meski tak jelas. Bisa dibayangkan, jika tidak berselera sama sekali.

Saya ingat Curitiba. Sebuah kota terkumuh dan termacet di Brasil era 1970-an. Kala itu Curitiba, seperti kota-kota di Amerika Latin umumnya, bukanlah kota yang ramah dan tidak punya masa depan. Adalah Jaime Lerner, walikota yang berhasil mengubah katak menjadi pangeran, seperti dalam dongeng-dongeng klasik. Dalam 3 tahun pertama menjabat, ia sukses melakukan revolusi tata kota secara frontal. Dari impiannya, Curitiba didesain menjadi kota yang ramah dan manusiawi.

Lalu, apa yang penting dari Lerner dan Curitiba? Imajinasi. Setiap inovasi lahir dari imajinasi. Kita mungkin tidak pernah menyadari tempurung kura-kura serupa tekstur sebuah kota. Bagaimana menarik dan teraturnya tekstur tempurung kura-kura tersebut. Lerner menyebutnya sebagai pelajaran kualitas hidup dan kerja bersama. Dari sinilah berkembang imajinasinya membangun kota. Selain itu, Lerner juga pembaca karya sastra yang baik. Imajinasinya juga berkembang dari dongeng-dongeng klasik yang dibacanya. Sehingga, lebih dari 40 tahun dalam setiap pidato, ia selalu menyampaikan, “kota bukan masalah, melainkan solusi.”

Di Padang, kota yang dibangun selama 300 tahun lebih itu, imajinasi seakan mati. Tata kota yang serampangan, menandakan lemahnya otak kanan pemegang kendali kota. Saya tidak tahu, bagaimana mereka membayangkan sebuah kota di masa depan dengan lesatan-lesatan perubahan yang kian deras itu. Bagaimana mungkin membayangkan sebuah kota masa depan dengan kalimat-kalimat normatif yang menjadi visi dan misi mereka tersebut.

Lemahnya imajinasi para pemimpin kota ini bisa jadi karena mereka tidak membaca buku, terutama karya sastra, mengunjungi pameran lukisan, menonton pertunjukan teater, musik dan film. Kita tidak pernah tahu, buku apa yang sedang dibaca walikota, misalnya. Berapa buku yang tamat dibacanya setahun,  berapa film yang telah ditonton, dan seterusnya. Kita cuma tahu mereka beralasan sibuk mengurus kota, sehingga tidak sempat melaksanakan kegiatan-kegiatan perangsang otak kanan bekerja tersebut.

Imajinasi yang mati ini membuat Kota Padang tumbuh seperti semak. Ilalang beradu tinggi dengan rumput gajah, di sela-selanya tumbuh pula rumput bawang, kemudian “dipulut” pula oleh bio-bio atau jilatang. Sehingga, tidak tahu mana yang harus dimusnahkan, dan mana yang harus dibiarkan tumbuh.

Namun, harapan selalu ada dari periode ke periode. Ketika pemilihan walikota dan wakil walikota datang, kita semua berharap ada tokoh yang lebih baik. Sayangnya, kenyataan selalu tidak seperti yang diharapkan. Tahun 2018, kita kembali mengasah harapan tersebut  setajam pengkhianatan pada kenyataan. Melihat bakal calon yang berlomba menampakkan diri, masih saja dikuasai pengalaman dan pengetahuan politik zaman batu. Tanpa imajinasi. Tanpa inovasi. Garing. Artinya, tekanan batin kita terhadap masa depan kota ini akan sama, bahkan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Belum kita temukan bakal calon walikota, termasuk petahana, yang keluar dari slogan normatif–yang kadang mendekati “hoax” karena tidak ditemukan kenyataannya–sembari membentangkan gambar atau video imajinasinya tentang Kota Padang masa depan. Kita lena selama ini dengan kata-kata manis yang seakan sudah di bibir tepi cawan itu. Hendaknya ada orang yang dengan tegas mengatakan kepada warganya, “saya ingin membuat Kota Padang seperti di gambar dan video ini, bantu saya mewujudkannya.” Lalu men-viral-kan gambar dan video tersebut agar menjadi pembicaraan semua orang.

Selain itu,  belum satu pun bakal calon walikota, kita dengar bicara dengan referensi yang menarik sebagai tanda mereka berwawasan. Mereka masih dalam tendensi emosi personal. Nampaknya, mereka kurang piknik. Dari itu, sering-seringlah menonton film-film berkualitas, bukankah sudah ada dua bioskop terkenal di Padang saat ini. Kemudian, mampir di toko buku, cari buku-buku bagus, untuk mengisi ruang kosong di otak. Atau, menonton pertunjukan seni, pameran lukisan, teknologi, dan seterusnya.

Perlu diingat, yang akan dihadapi dalam pemilihan serentak nanti adalah kaum milineal. Jumlah mereka secara demografi paling banyak dengan kualitas hidup yang lebih baik, berpengetahuan, dan kritis terhadap berbagai persoalan. Mereka bisa saja kagum dan berucap “luar biasa” dengan jempol sebanyak-banyaknya, jika tindakan walikota berguna untuk semua warga. Tapi, mereka bisa juga dengan enteng mengucap “bajingan!” bila kebijakan walikotanya mencelakakan warga.

Akhirnya, tugas berat kita di masa depan sebagai warga kota adalah mencari katak yang bisa diubah menjadi pangeran untuk membangun kota tercinta ini. (*)

 

Gusriyono, bergiat di Komunitas Padang Membaca.