Headline

Implikasi Keberadaan Lembaga Pendidikan Terhadap Sistem Perekonomian Masyarakat

Zainal Abidin, Pendiri Universitas Fort De Kock Bukittinggi

Bukittinggi – Besarnya pengaruh keberadaan suatu lembaga pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat dan pendapatan daerah, menjadi perhatian khusus Pemerhati dan Praktisi Pendidikan, Kota Bukittinggi, Zainal Abidin. Tidak hanya dampak ekonomi masyarakat yang tumbuh, pajak sebagai pendapatan daerah juga akan meningkat, peradaban sosial dan budaya masyarakat setempat ikut berkembang karena bercampurnya interaksi sosial masyarakat. Sabtu, (11/07).

Ketika suatu lembaga pendidikan muncul disuatu wilayah, apalagi lembaga pendidikan tingkat tinggi, secara langsung atau tidak akan memiliki dampak kepada perubahan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Akibat hal tersebut akan muncul kebutuhan-kebutuhan baru bagi masyarakat yang berinteraksi di sekitar wilayah lembaga pendidikan.

Pendiri Lembaga Pendidikan Universitas Fort De Kock, Bukittinggi ini menjelaskan bahwa kebutuhan-kebutuhan itu akan muncul, (yang barangkali sebelumnya tidak ada, menjadi ada) seperti kebutuhan alat tulis dalam jumlah banyak, kebutuhan sarana transportasi untuk antar jemput, kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan lainnya. Termasuk juga berdampak kepada kebutuhan pengembangan lahan untuk rumah makan, rental komputer, kos-kosan, layanan cuci pakaian cepat dan lain sebagainya.

Pemenuhan kebutuhan tersebut dalam bentuk varian bisnis/usaha baru yang diprakarsai oleh masyarakat sekitar sehingga perputaran uang atau ekonomi masyarakat semakin membaik. “Wajar saja, seperti masyarakat di sekitar Garegeh mengeluh pada hari Senin, 6 Juli 2020 lalu di depan gerbang fakultas syariah, IAIN, di wilayah Garegeh, Bukittinggi pindah ke wilayah Kubang Putiah, Kabupaten Agam. Masyarakat menolak pindahnya fakultas syari’ah di Institut Agama Islam Negeri pindah karena berdampak kepada penurunan omset bahkan penutupan usaha/bisnis yang sudah dirancang masyarakat untuk puluhan tahun kedepan,” ujarnya.

SebagaiĀ  Pendidik di Universitas Fort De Kock, Zainal Abidin menambahkan, “Seharusnya, sebelum pindah salah satu fakultas IAIN, Pemerintah Kota Bukittinggi mengambil sikap yang cepat agar masyarakat di sekitar Garegeh mendapatkan solusi terhadap usaha/bisnis yang sudah dibangun. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan agar pertumbuhan ekonomi masyarakat tetap stabil/tidak terganggu.”

Analisa sederhananya seperti ini, ketika suatu lembaga pendidikan setingkat universitas berdiri di Kota Bukittinggi, minimal masyarakat yang akan berkunjung, berdomisili, berinteraksi dan berbisnis disekitar lembaga pendidikan selama 4-5 tahun. Tetapi jika dibandingkan dibangun sebuah tempat penginapan/hotel/tempat hiburan paling lama masyarakat akan berkunjung selama 3 hari atau sampai 1 Minggu di Kota Bukittinggi.

Bayangkan, berapa banyak income/pendapatan masyarakat dan Pemerintah Kota Bukittinggi akan hilang jika hal ini tidak menjadi perhatian khusus. Zainal berharap Pemko Bukittinggi tidak mengambil keputusan dengan landasan emosional saja namun harus berfikir jernih dan komprehensif terhadap kemaslahatan masyarakat.

Ketika ditanya, jika hal yang sama terjadi kepada Universitas Fort De Kock Bukittinggi, apa yang akan dilakukan oleh pihak yayasan?

Apakah itu yang diinginkan, Zainal menjelaskan, sekali lagi keberadaan lembaga pendidikan tinggi itu sangat memberi pengaruh kepada sistem perekonomian masyarakat sekitar.

Kalau ingin ekonomi masyarakat di sekitar Universitas Fort De Kock lumpuh, silahkan saja. Kami siap, jika Pemko tidak memberikan perhatian khusus kepada lembaga pendidikan tinggi yang memiliki implikasi luas kepada masyarakat dan pedagang sekitar. Maka, tanpa harus permisi kami akan mengikuti langkah-langkah seperti yang telah dilakukan oleh IAIN.

“Demi menyelamat sistem belajar mengajar para mahasiswa, kami siap pindah ke luar kota Bukittinggi. Lalu gedung ini akan kita jadikan hotel karena designnya sudah memadai, seperti keinginan Pemko Bukittinggi sebagai penunjang kota wisata,” tutup Zainal. (Rizky)