Headline

Ismet Amzis: Masyarakat Kota Bukittinggi Heterogen dan Egaliter

Padang – Masyarakat Bukittinggi itu memiliki sifat yang Heterogen dan Egaliter. Hal ini terbukti bahwa Kota Bukittinggi selalu dalam situasi yang aman dan kondusif disituasi apapun.

Pengertian egaliter adalah persamaan derajat pada setiap manusia sama, semua manusia dihadapan Tuhan sama tanpa membedakan kedudukan, kekayaan, keturunan, suku dan sebagainya melainkan karena sikap masing masing individu.

Masyarakat Heterogen adalah masyarakat dengan identitas ras, etnis, agama dan budaya yang beragam. Pada masyarakat heterogen bisa dijumpai beragam agama, kebudayaan termasuk jenis makanan.

Meskipun terjadi gonjang-ganjing dimasa jelang pemilihan kepala daerah (pilkada), adalah hal yang biasa. Boleh-boleh saja ada ‘pertarungan’ antar elit, namun dalam sebuah pertarungan ini, semuanya harus menganggap kawan, bukan lawan.

Hal tersebut dikatakan oleh Mantan Walikota Bukittinggi periode periode 2009—2010 dan 2010—2015 di Padang, Rabu, (05/08). “Memang seperti itu situasi politik di Kota Bukittinggi ketika pilkada, selalu begitu (ramai), namun diakhir perhelatan Kota Bukittinggi selalu aman dan damai,” ujarnya.

Masyarakat Kota Bukittinggi mengerti betul situasi kotanya, mereka tidak ada yang ingin perpecahan. Demokrasi di Kota Bukittinggi dibangun dengan ketulusan dan keikhlasan, itu yang kita pelihara selama ini.

Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Fraksi Demokrat periode 2019—2024 ini menambahkan, pastinya para calon kepala daerah tentu sudah memiliki visi dan misi yang bagus. Jelas para calon-calon itu berniat membangun untuk kota Bukittinggi yang lebih baik.

Ketika ditanya tentang apa saja yang menjadi tolok ukur masyarakat untuk memilih atau menentukan kepala daerah masa depan yang memahami Kota Bukittinggi? Lalu dengan nada yang semangat Ismet menjelaskan, “Keberhasilan suatu pemerintahan itu dapat diukur dari 4 aspek, yaitu sejahtera, aman, meningkat perekonomian dan berkurang angka kemikinan masyarakat. Kota Bukittinggi itu terdiri dari 3 Kecamatan dan 24 Kelurahan dan populasi masyarakatnya sekitar 120.000-an orang.”

Lalu tegas Ismet, boleh membangun fisik tapi harus mendukung dari 4 aspek yang disebutkan tadi. Sistem perekonomian tetap berjalan lalu masyarakat sejahtera.

Selain itu untuk kedepannya, Ismet menambahkan, sinergitas dengan pemerintah tetangga atau yang berdampingan dengan kota Bukittinggi harus dibangun. Harus itu!

Apalagi Bukittinggi dengan Agam, saya menilai seperti ibarat Aur jo Tabiang, sanda-manyanda, (Kokoh). Bagaimana-pun Bukittinggi tidak bisa dipisahkan secara kultural/budaya, emosional meskipun secara administratif terpisah. Makanya terkenal Bukittinggi Koto Rang Agam.

Kota Bukittinggi juga harus membangun kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, 50 Kota, Payakumbuh termasuk dengan Pasaman. Efeknya selain harmonisasi antar pemerintah terjalin, keuntungan dari aspek ekonomi, sosial terhadap masyarakat Kota Bukittinggi akan meningkat.

Kota Bukittinggi selain terkenal sebagai Kota Pariwisata, Bukittinggi juga terkenal sebagai Kota Pendidikan, Kota Perdagangan dan Jasa termasuk Kota Pelayanan Kesehatan.

“Itulah kondisi yang sebenarnya dan potensi yang ada di Kota Bukittinggi. Semuanya itu, salah satunya karena didukung oleh kondisi alam yang sejuk, masyarakat yang egaliter dan heterogen sehingga sampai saat ini situasi kota dalam situasi aman dan damai,” tutup Ismet. (rir)