Opini

Kami Rindu Belajar Bersama di Sekolah

Suasana belajar diruang kelas tahun 2019

Tulisan ini bukan sekedar meramaikan situasi kondisi atau sesuatu yang sudah direncanakan segelintir kelompok atau pribadi, tidak juga karena ada kepentingan pihak tertentu atau kegiatan yang telah dirancang sebelumnya. (mungkin bisa jadi arah pembahasannya politik kali ya, mentang-mentang mau pilkada)

Bukan, bukan itu maksudnya, tetapi tulisan ini otomatis tercurahkan, akibat bercampurnya segala macam rasa yang dialami oleh hampir setiap manusia dimuka bumi ini. (Betul.. ya betul…)
Suatu bencana yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita yaitu, bencana penyebaran virus corona yang memiliki kekuatan dahsyat berskala global/dunia, sehingga melumpuhkan segala macam kegiatan sosial ekonomi masyarakat bahkan menelan korban jiwa, yang lebih dikenal pandemi covid-19 akhir-akhir ini. (sudah ketebak ya) Wow… Luar biasa.

Okey… sebelumnya tadi saya telah mengatakan bahwa otomatis tercurahkan akibat bercampurnya segala macam rasa, (wajarkan perempuan).

Baik rasa cemas, khawatir, gelisah, panik, cenderung mengarah stres bahkan tidak menutup kemungkinan ada diantara kita yang stres berat. Tidak bisa dipungkir, yang terjadi disekitar kita ada beragam efek sosial, psikologis, ekonomi, pendidikan, kesehatan serta perubahan pola kebiasaan atau kehidupan masyarakat atas kejadian tersebut. Tapi saya yakin, masing-masing pribadi kita punya pola atau daya tahan diri yang berbeda-beda untuk menyingkapi dampak dari penyebaran virus corona ini.

Kalau kita mau ambil contoh, sebagian besar penduduk kita adalah umat muslim yang sudah mengetahui bagaimana cara mengatasi bencana seperti bencana pandemi covid-19 untuk disikapi sebagai bentuk cobaan dalam rangka meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Begitu juga dengan saudara-saudara yang non muslim. (meskipun belum ada persiapan sama sekali menghadapi hal itu)

Seperti yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an, “Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya.” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

Gusniwati, S.Pd

Ngomong-ngomong, kok panjang juga prolog tulisannya, apa sih sebenarnya yang mau dibahas? Padahal efek dari penyebaran pandemi covid-19 ini berimbas ke semua aspek kehidupan masyarakat. Ya… Setidaknya gambaran singkat diatas sedikit banyak mencerminkan situasi kondisi masyarakat terkini disekitar kita untuk dijadikan bahan diskusi dalam mencari solusi. (loh… tadi katanya mau curhat tapi kok mau diskusi)

Baiklah, kita langsung masuk kedalam literatur yang singkat ini, pastinya saya hanya akan membatasi topik permasalahan tentang dampak penyebaran pandemi covid-19 dari sisi pendidikan saja karena hanya itu kemampuan saya sebagai seorang pendidik atau lebih dikenal dengan guru, (merendahkan diri tapi naikkin mutu)

Jadi, selama kurang lebih 7 bulan, sistem pelajaran jarak jauh berlangsung di seluruh peserta didik di Republik Indonesia ini. Mulai dari tingkat prasekolah hingga tingkat perguruan tinggi. (Belajar daring/online)

Tidak pernah terbayangkan atau ilmu yang saya pelajari sebelumnya pada saat dibangku kuliah bahwa untuk menjadi seorang guru harus lebih banyak mengajar peserta didik secara daring/online.

Artinya hampir semua guru, saya rasa tidak memiliki kesiapan dengan situasi seperti ini, bahkan harus mempelajari metode baru seperti menggunakan aplikasi zoom meeting, google classroom, video confrence, dan lain sebagainya agar sistem pembelajaran tetap berlangsung. Padahal menurut keyakinan saya, sebuah sekolah, tidak akan lengkap bila tidak ada kehadiran guru dan murid dalam ruang kelas.

Namun apa mau dikata, agar penyebaran virus corona dapat ditekan atau diminimalisir, akhirnya pemerintah menerapkan sistem belajar mengajar dirumah, bekerja dirumah, hampir semua kegiatan masyarakat berlangsung #dirumahsaja.

Jujur, saya terharu dan bahkan rasa ingin menangis tak bisa tertahankan karena melihat keadaan seperti ini. Kita dipaksa harus bisa ini dan bisa itu. Sementara kemampuan masing-masing guru, kemampuan masing-masing murid dan kemampuan masing-masing orang tua murid bisa dikatakan ada yang tidak mumpuni mengahadapi bencana ini.

Bagi kami (barangkali mewakili para guru), bukan hal yang mudah termasuk murid serta orangtua murid untuk belajar secara daring, yakni merubah pola pembelajaran dari dunia nyata ke dunia maya. Hal ini merupakan kegiatan yang membutuhkan tenaga fisik dan mental ekstra bagi seorang guru yang ingin menyampaikan materi pembelajaran agar seluruh murid bisa paham akan materi yang diberikan.

Meski zaman sekarang adalah zaman milenial yang telah dilengkapi dengan kecanggihan teknologi informasi 4G bahkan sudah ada yang 5G, komunikasi tatap muka jarak jauh begitu terasa mudah, tanpa ada batas ruang dan waktu. Namun, kecanggihan teknologi tersebut tidaklah luput dari beberapa kelemahan, seperti gambar dan suara yang kurang jernih, frekuensi sinyal yang terkadang naik turun, belum lagi dengan kapasitas telepon seluler yang tidak mumpuni, termasuk ketersediaan pulsa data, apa lagi yang tidak memiliki fasilitas semua ini. (wow…)

Bagi masyarakat yang tinggal di kota atau kabupaten yang terfasilitasi akan hal itu tentu tidak terlalu khawatir (barangkali mungkin hanya pulsa data terbatas), lalu bagaimana dengan masyarakat dan rekan sesama guru serta murid yang berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T)? Bisa dibayangkan dan saya sendiri sudah bisa membayangkan betapa susah dan repotnya. (karena pernah tinggal di daerah 3T)

Betul teknologi diciptakan untuk membantu mempermudah suatu pekerjaan manusia, namun bukan berarti untuk menggantikan peran manusia. Keberadaan fisik seorang guru tetap dibutuhkan oleh murid dalam proses belajar-mengajar. Selain itu, peran utama seorang guru adalah sebagai pendidik yaitu bagaimana mengajar pendidikan karakter kepada peserta didik, bukan hanya sebatas menyampaikan materi pembelajaran.

foto tahun 2019

Tujuan pendidikan itu adalah adanya proses perubahan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik seseorang atau penguasaan prinsip kejiwaan peserta didik dan merangsang semangat peserta didik untuk belajar lebih efisien dan lebih produktif.

Menurut hemat saya, murid maupun guru sebenarnya tetap butuh pertemuan tatap muka didalam kelas secara nyata bukan hanya virtual atau lewat online. Meskipun demikian apa mau dikata, hal tersebut tidak bisa dilakukan karena memang situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.
Adanya penutupan sekolah, peserta didik akhirnya tidak dapat berinteraksi dengan teman-temannya, termasuk dengan gurunya.

Sebenarnya kemampuan kognitif dan keterampilan sosial dapat dibangun saat adanya interaksi antara guru dengan murid, lalu interaksi murid dengan teman sebaya di sekolah. Adalah sarana baginya untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan keterampilan sosial peserta didik untuk memperoleh pengetahuan tentang dunia serta mengembangkan konsep kepribadian.

Lalu dengan situasi dan kondisi seperti ini, apa yang dilakukan oleh guru? Yang jelas sekarang, apa yang bisa kita ajarkan, kita ajarkan. Masalah penilaiain, bagi saya itu hanya sebatas nilai, yang penting prinsipnya bisa membekali murid-murid dengan kemampuan yang dimiliki untuk bisa bertahan, itu saja. (Ya kan…)

Kemudian apa saja catatan selama ada virus corona? Virus ini tidak hanya menyerang terhadap kesehatan fisik namun juga menyerang kesehatan psikologis. Keadaan ini membuat individu merasa terganggu kesehatan psikologisnya seperti kecemasan, ketakutan, kehawatiran yang berlebihan serta berdampak psikosomatik. Hal ini juga dialami oleh peserta didik yang sudah terlihat jenuh.

Psikosomatik adalah suatu kondisi atau gangguan ketika pikiran memengaruhi tubuh, hingga memicu munculnya keluhan fisik. Gangguan psikosomatik tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tapi juga anak-anak. (ternyata masih ingat pelajaran psikologi waktu kuliah).

Kebosanan dengan situasi kondisi seperti ini, menimbulkan gangguan kesehatan mental juga akan banyak mempengaruhi keadaan psikis peserta didik. Sugesti yang dibangun dalam pikiran sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik dan psikis. Psikosomatik akan timbul ketika seseorang merasa stress serta cemas berlebihan bahkan dapat menimbulkan depresi. Mudah-mudahan semua itu tidak terjadi untuk seluruh anak Indonesia. Aamiin.

“Intinya, Kami rindu belajar bersama di sekolah”

Penulis: Gusniwati, S.Pd – Praktisi Pendidikan di Kota Bukittinggi