Opini

Mengenang Ali Audah, Bukan Penerjemah Biasa Oleh: Fadhli Bassya

Keterangan foto (KI-KA): Almarhum Ali Audah, Taufiq Ismail dan penulis

Dua puluh dua September, empat tahun lalu, saya dan penyair Taufiq Ismail yang baru saja menghadiri acara kondangan, segera meluncur ke sudut kota Bogor. Di kediamannya yang asri seorang tua nan bersahaja sudah menanti kedatangan kami. Saya bertatap muka, berjabat tangan erat dan bercengkerama dengan sosok Ali Audah.

Pertemuan waktu itu sangat berkesan, dan rupanya itulah kesan terakhir yang beliau tinggalkan. Ali Audah, seorang sastrawan, intelektual dan juga penerjemah andal meninggal dunia pada hari Selasa, 20 Juni 2017, dalam usia sembilan  puluh tiga tahun. Mendengar kabar duka tersebut ingatan saya seketika melayang ke masa empat tahun silam.

Saya terpikat dengan sosok Ali Audah. Mengunjungi Ali Audah seperti berbicara dengan masa lalu. Di kediaman di Bogor inilah, selama hampir enam puluh tujuh tahun Ali Audah bermukim. Dan dalam rentang waktu tersebut berbagai masterpiece terjemahan telah ia hasilkan, diantaranya Konkordansi Qur’an, Panduan Kata dalam Mencari Ayat Qur’an (1991), Kemudian Qur’an, Terjemahan dan Tafsirnya karya mufasir terkenal, Abdullah Yusuf Ali, dua jilid (1993, masing-masing 750 halaman).

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam sebuah orasi budaya menggambarkan sosok Ali Audah sebagai seorang pembelajar otodidak. Ali Audah yang tidak menamatkan  Madrasah Ibtidaiyyah atau sekolah dasar dan juga tidak pernah belajar di pesantren, tetapi mampu menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab dengan sangat baik. Bukan main-main, karya yang diterjemahkannya adalah buku-buku yang berkualitas dan menjadi acuan atau referensi utama.

Sebagai seorang penerjemah karya monumental, Ali Audah melahap segala macam bentuk buku, hingga kemudian memfokuskan diri sebagai penerjemah, khususnya karya-karya Sastra Arab. Aktivitas tersebut membawa Ali Audah memimpin Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan menjadi dekan sebuah perguruan tinggi di Bogor.

Karya lain berikutnya ialah Abu Bakar as-Siddiq, Sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi – alih bahasa dari karya wartawan dan sastrawan Mesir terkenal, Dr. Muhammad Husain Haekal (1993, 391 halaman). Dari tangannya juga telah lahir karya terjemahan yang mendapat pujian banyak kalangan, yaitu Sejarah Hidup Muhammad, juga karya Muhammad Husain Haikal (1992, 697 halaman).

Berinteraksi dengan Ali Audah serasa menembus lorong waktu yang panjang.  Sepanjang usia Republik ini yang masih belum menemukan identitas yang jelas. Saya kira polemik kekinian negara kita adalah ketidakmampuan untuk menerjemahkan masa lalu, menerjemahkan realita dan belum memiliki landasan kebangsaan yang kuat untuk diterjemahkan bagi anak cucu kelak.

Al-Fatihah***

Fadhli Bassya, budayawan