Lensa

Ondeh Mande, Cuman 300 Ribu Bisa Bawa Cewek Ngamar

Padang,—Di sebuah ruas yang cukup ramai jelang tengah malam, seliweran kendaraan juga masih terlihat, suara cewek bertransaksi cewek pun gampang terdengar.

Bagi pengendara roda empat kalau mau rasain cewek di kawasan itu, cukup melaju dengan pelan.

“Tak lama setelah itu pasti ada kendaraan lain memepet dan kaca terbuka terdengar suara nawarkan cewek,”ujar Erdan ceritakan mengisi malan di Kota Padang, Rabu 19/7.

Bagi penikmat malam jangan berhenti saat penawaran, biasanya melanjutkan negoisasi. “Berapa ada muda dan manis,”ujarnya menirukan negoisasi waktu di malam minggu kenarin.

Si Cewek bispak itu biasanya pasti nawar harga tinggi kalau mau tawar menawar pasti bisa dapat harga minimalis.

“RP 500 ribu short time bang,”ujar si cewek dibalik kaca mobilnya.

“Uh mahal, nggak bisa kurang,” ujarnya Erdan menceritakan.

Akhirnya, harga disepakati Rp 300 ribu. “Ya 300 ribu aja bang udah sama kamar,”ujar Erdan menceritakan.

Itulah fakta kebidupan malam di Kota Padang, bahkan kabarnya harga makin murah kalau malam semakin larut.

Kenyataan ini jelas bertolak belakang dengan visi dna misi kota Padang, apalagi Padang dikenal sebagai ibu kota dari provinsi yang etnisnya sangat kental Islamnya.

Tapi tak bisa dipungkiri, cewek malam ada bukan karena pilihan tapi semata-mata untuk memenuhi tuntuan ekonomi dan gaya hidup.

Kawasan itu memang acap jadi sasaran razia Pamong Praja tapi para cewek yang bertransaksi dengan kendaraan roda empat pandai membaca situasi.

“Jika ada razia kita tidak beroperasi, habis razia kita jalan lagi,”ujar si Cewek saat bercerita kepada pria yang membawanya ngamar.

Banyak kalanga berharap Pemko Padang intens melakukan pengawasan di kawasan yang sudah bukan rahasia lagi bagi warga kota itu.

“Pemko harus rutin melakukan razia di kawasan itu kapab perlu dirikan pos di situ, pasti nggak ada yang mau bertransaksi seks di sana lagi,”ujar Arsya seorang warga di Padang. (nes)