Opini

Perguruan Tinggi Agen Perubahan Peradaban dan Inovasi Kemajuan Negeri

Gusrizal Bersama Presiden RI, Joko Widodo

Kota Bukittinggi mungkin sedang membuat kemajuan dalam upaya untuk membangun infrastruktur dan memperbaiki fasilitas-fasilitas pendukung pada sektor pariwisata, pendidikan, ekonomi dan kesehatan, tetapi ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan kapasitas dalam berinovasi.

Agar Kota Bukittinggi dapat tumbuh lebih cepat dan mencapai tujuan yang berkelanjutan, ada dua prioritas utama yang nyata untuk segera dikembangkan, diantaranya memfasilitasi keberadaan lembaga Perguruan Tinggi (PT) dan memfasilitasi keberadaan para pelaku usaha.

Terkhusus jika kita bicara lembaga pendidikan, PT memiliki banyak peran dalam proses dinamika masyarakat yang dapat memberikan kontribusi bahkan lebih besar lagi untuk agenda pembangunan kota.

Kota Bukittinggi juga dirasa perlu mengalihkan investasi ke peningkatan kapasitas penelitian, terutama di perguruan tinggi. Penelitian yang berkualitas memungkinkan universitas mencetuskan ide-ide bagi dunia usaha dan menyumbangkan ilmu pengetahuan serta inovasi teknologi.

Apalagi selama masa pandemi virus covid-19, hampir semua pelaku usaha kecil menengah merasa letih akibat turunnya bahkan hilang omset penjualan.

Salah satu solusi untuk percepatan perubahan peradaban demi kemajuan wilayah adalah adanya anggaran pemerintah yang memadai di bidang penelitian dan pengembangan (Litbang) serta peningkatan jumlah perizinan PT dalam kapasitas penelitian dan inovasi.

Pendidikan harus menjadi bagian dari pelayanan terhadap warga negara, sehingga secara teoritis, Pendidikan Tinggi selayaknya diperlakukan sebagai pelanggan. Dengan konsep ini, maka PT harus dilayani sebagai komitmen terhadap pelanggan.

Hingga muncul pertanyaan pada saat ini, “Apakah pemerintah kita sudah memahami faham ini?” Jangan PT hanya dijadikan sebagai mitra semata-mata, bukan mitra yang seimbang tetapi selalu dipandang sebagai lembaga yang butuh.

Nada pesimisme yang dikemukakan sebelumnya justru dapat dijadikan sebagai bahan otokritik untuk membangun pendidikan tinggi lebih baik. Jika kemudian segala kekurangan yang ada dijadikan sebagai motivasi untuk lebih baik justru akan menjadi spirit tersendiri.

Sayangnya, kalau semua pesimisme itu ditanggapi dengan bahasa birokrasi, maka tentunya tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kecurigaan dan ketidaknyamanan.
Justru dengan adanya kritik, justru muncul dari dalam akan memberikan kesempatan untuk pembenahan internal.

Dari pendidikan tinggilah dimungkinkan lahir inovasi yang akan mendorong kemajuan negeri. Semakin berdaya sebuah pendidikan tinggi, maka daya saing dan kemajuan akan tercapai.

Penulis: Gusrizal Dt. Salubuak Basa
(Pemerhati Pendidikan dan Pengajar Bahasa lndonesia di Australia)