Headline

Peringati Sumpah Pemuda, Sylviana Murni : Berkarya Adalah Jalan Bagi Pemuda Merawat Kebhinekaan

Detaksumbar_“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia. Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia.” (Ir. Soekarno)_

Selalu terngiang di telinga tiap kali pidato itu di dengungkan. Gejolak dan guncangan di jiwa tentu sudah tidak diragukan lagi. Semangat Nasionalisme dan berjuang selalu berkobar. Pidato tersebut menunjukan peran pentingnya pemuda bagi kemajuan suatu bangsa. Di mana Indonesia bisa merdeka dimulai dari keberanian para pemuda dalam peristiwa Rengasdengklok. Lalu, bagaimana dengan generasi sekarang?

Generasi sekarang disebut dengan GEN Y atau generasi milenial.

Adalah milenial generasi yang lahir dalam rentang tahun 1980 hingga awal tahun 2000. Generasi ini tumbuh dan berkembang sekarang di zaman era yang canggih dengan kecepatan teknologi dan akses informasi yang sangat mudah didapat hanya dengan sentuhan via layar smartphone. Generasi milenal juga punya banyak keunggulan serta peluang kesempatan yang gemilang dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Sangat berbeda dengan generasi dahulu, baik dari segi semangat, motivasi, pekerjaan dan idealisme.

Positifnya, generasi milenial akan semakin mudah dalam mendapatkan informasi. Jika digunakan dengan baik, akan menghasilkan pikiran kreatif dan aktif dalam berbagai kegiatan. Mereka akan semakin tertantang dalam mencapai mimpi mereka dengan cara kreatif, ingin berbagi dengan sesama dengan cara yang unik. Contohnya lahir berbagai aplikasi yang sangat mempermudah kehidupan sehari-hari.

Negatifnya, jika generasi milenial tidak memanfaatkan teknologi dengan baik, maka siap tidak siap ia akan dikendalikan oleh teknologi. Istilahnya biasa disebut sebagai generasi menunduk. Generasi yang aktif bermain gadget seharian tanpa memikirkan lingkungan sekitar atau biasa disebut unsos, suatu kegiatan update status yang hanya untuk tujuan eksis serta mengharapkan banjir pujian. Dan yang paling parah adalah fenomena social climber, di mana seseorang ingin terlihat kaya di media sosial dan berbanding terbalik dengan kehidupan nyata.

Hidup di zaman serba canggih dengan segala keparipurnaan teknologi bukan menjadi jaminan seseorang bisa langsung melambung tinggi di puncak kesusksesan dengan sangat instan. Lalu apa yang dibutuhkan oleh generasi milenial? Jalannya hanya satu, yang membedakan kita dengan yang lainnya adalah melalui karya.

Namun bicara karya tentu tidak hanya sekadar ikut-ikutan dan berbasis kecepatan. Semua harus dilandasi dengan pedoman keahlian yang konsisten di asa dan dapat menunjukkan ciri dari otentisitasnya. Dari sinilah dengan penuh keyakinan karya tidak hanya sekadar menjadi karya, tentu juga dapat menghasilkan.

Maka atas sebab itu, setiap dari kita yang termasuk dalam koridor milenial membutuhkan sesuatu yang disebut personal branding. Secara sederhana, adalah personal branding kegiatan memberi tahu publik atau dunia tentang siapa kita. Melalui langkah inilah, ada arus yang akan membawa seseorang untuk berhenti mengejar uang dan membuat uang yang akan mengejar kita. Karena uang tahu siapa kita.

Proses kegiatan memberi tahu dunia tentang siapa kita, beruntungnya saat ini dimudahkan dengan kecanggihan teknologi dan kecepatan media sosial. Tanpa harus bertatap mata dan satu meja, seluruh manusia dari penjuru dunia bisa mengenal dan mengerti tentang kita secara langsung melaui jempol.

Namun perlu diingat, kalau hanya satu kali seseorang menang catur, tentu tidak akan dianggap jago main catur. Ia perlu berkali-kali menang untuk dianggap jago main catur. Begitu pula juga dengan seseorang yang satu kali kehilangan dompet, tidak akan disebut pelupa, kalau tidak dilakukan secara berulang-ulang.

Peringati Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020 kali ini menjadi pembeda, selain pandemi yang mengubah suasana, juga banyak terjadj penetrasi dari suatu negara ke negara yang lain. Namun bukan senjata yang menjadi alat utama. Tapi karya lah yang mengubah pandangan terhadap negara.

Hematnya, prestasi hanya jeda bernapas. Sebab stimulus setiap manusia saat merespons pencapaian adalah bukan dengan kepuasan. Tapi mengembalikannya pada agenda baru. Jadi, apa personal branding-mu? Mari berkarya!