Headline

SDM dan Dukungan Pemerintah Menjadi Hal Terpenting Dalam Pengembangan Ekonomi Sumbar Kedepan

Detaksumbar.com- —Peran Sumber Daya Manusia (SDM) dan dukungan pemerintah menjadi yang terpenting dalam pengembangan dan keberlanjutan ekonomi Sumbar ke depan. Selama ini kedua faktor tersebut tidak maksimal, sehingganya pertumbuhan ekonomi Sumbar stagnan, di kisaran 5,2% saja.

Harus ada upaya-upaya strategis agar Sumbar mampu bersaing di era Revolusi Industri 4.0 saat ini. Selama ini Sumbar masih terpaku kepada kebanggaan-kebanggan masa lalu. Untuk itu harus ada pemikiran bersama, baik itu para pemimpin dan masyarakat, Sumbar 10 atau 20 tahun ke depan itu maunya seperti apa?

Hal itu disampaikan Dony Oskaria dalam acara diskusi Grup WhatsApp (WA) TOP100, dengan tema “Pikiran 100 Tokoh Minangkabau untuk Sumbar ke Depan”, Minggu (29/9), bertempat di Hotel Pangeran Beach Padang, dimana Dony memberikan “kuncian” terakhir, sebagai keynote speaker di acara diskusi yang dipandu doktor Abdullah Khusairi, dosen UIN Imam Bonjol Padang itu.

CEO di berbagai perusahaan CT Corp itu menyampaikan bahwa konsentrasi pembangunan Sumbar itu, pertama di bidang pertanian dan kedua pariwisata. “Tapi pembangunan kedua sektor tersebut tidak jelas arahnya. Akibatnya hasil yang diharapkan tidak maksimal,” ujar Dony yang mensponsori acara “kopi darat” diskusi Grup WA yang beken tersebut.

Bayangkan, kata Dony, tomat yang ditanam petani di Alahan Panjang Kabupaten Solok hanya dihargai Rp500 per kilo. Begitu juga dengan bawang yang harganya turun jauh. Kondisi ini membuat Dony prihatin dengan tidak berharganya produk-produk pertanian, sehingganya petani merugi.

“Begitu juga dengan kondisi pariwisata. Kita salah langkah dengan membangun destinasi wisata secara sporadis. Dan saya termasuk yang tidak setuju pembangunan pariwisata seperti Kawasan Wisata Mandeh. Begitu juga dengan promosi yang dilakukan ke negara-negara Eropa. Untuk apa? Harusnya ke Malaysia, Vietnam, Cina, dan negara-negara Asia, yang jaraknya ke Sumbar hanya beberapa jam penerbangan” sebutnya.

Menurut putera Tanah Datar kelahiran 50 tahun lalu itu, fokus pembangunan itu adalah masyarakat, khususnya di nagari-nagari yang menjadi basis ekonomi Sumbar. “Kita menginginkan Sumbar yang maju, bermartabat yang berlandaskan agama dan adat istiadat,” tukuk Dony.

Pembangunan yang dilakukan itu, lanjut Anggota Dewan Komisaris PT Garuda Indonesia itu, bukan membangun fisik semata, tetapi bagaimana jiwa (ruh) juga harus dibangun. Termasuk membangun generasi muda Sumbar yang tangguh, jauh dari LGBT, prostitusi dan narkoba.

“Jadi yang dibutuhkan Sumbar ke depan itu adalah pemimpin yang tidak sibuk dengan perkara politik semata. Pemimpin Sumbar itu harus mampu menyiapkan ruang publik bagi generasi muda Sumbar untuk melampiaskan kreativitasnya secara kongkret,” ucapnya.

Anak muda Minang saat ini, sebenarnya tidak kalah dengan yang lainnya. Menurut Dony, di perusahaan-perusahaan berbasis online, seperti traveloka dan sejenisnya, banyak di-inisiasi oleh anak-anak muda Minang di perantuan. “Perang kita bukan perang masa lalu, tapi kita perang masa depan,” pungkas Dony.

Walaupun ada kegiatan lain yang urgen, tetapi demi kecintaan Dony terhadap Sumbar, acara mendampingi mitranya yang dari luar negeri untuk pergi ke Bali, ia suruh yang lain mendampingi. “Saat ini, saya tidak akan maju menjadi pemimpin di Sumbar, tetapi semangat dan kecintaan saya terhadap Sumbar sangat besar. Apalagi ikut memikirkan Sumbar bersama tokoh-tokoh hebat dari berbagai kalangan, seperti acara TOP100 ini,” tuturnya.

Hadir dalam diskusi tersebut, tokoh-tokoh Sumbar dari berbagai kalangan, seperti Jasman Rizal, inisiator sekaligus admin TOP100, dari akademisi, Alfan Miko, Asrinaldi, Andri Rusta, Azre, Miko Kamal, Wendra Yunaldi. Kemudian wartawan dan budayawan Hasril Chaniago, Echo Yance Edrie, Edy Utama, Sukri Umar, Adrian Tuswandi, dan tokoh-tokoh lainya seperti Chairul Umaya, Ibrani, Musfi Yendra, Novermal Yuska, serta banyak lainnya.