Opini

Sejauh Mana Sektor Pariwisata, Pendidikan, Ekonomi dan Kesehatan Terfikir Sebagai Aset Kota Bukittinggi

Gusrizal Dt. Salubuak Basa

Bukittinggi – Sebagai salah satu kota yang bersejarah di negara Republik Indonesia, Bukittinggi miliki potensi pesona alam dan kota yang mengagumkan.

Kota Bukittinggi yang sebelumnya pernah menjadi Ibukota Negara pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia setelah Kota Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar tahun 1948-1949.

Kota inipun juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatra Tengah. Kota peninggalan sejarah pada zaman kolonial Belanda yang disebut dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra. (Sumber Wikipedia)

Selain itu Bukittinggi juga dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya adalah Mohammad Hatta dan Assaat yang masing-masing merupakan Proklamator dan Pejabat Presiden Republik Indonesia.

Atas dasar inilah mengapa Kota Bukittinggi disebut sebagai icon kota pariwisata (landmark of tourism) di Sumatera Barat. Ada nilai sejarah di Kota Bukittinggi sehingga kota ini memenuhi syarat sebagai kota pariwisata, diantaranya objek destinasi wisata yang bersejarah, udara yang sejuk karena berada diatas ketinggian 909-941 mdpl dan terletak pada rangkaian bukit barisan serta berada diantara dua Gunung yakni Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.

Selain itu Bukittinggi memiliki  beragam jenis kuliner yang enak untuk dinikmati, sehingga dikenal sebagai kota yang nyaman dan aman bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun seiring proses waktu berjalan ternyata sektor pariwisata Kota Bukittinggi masih perlu didukung dan dikembangan dari sektor yang lain untuk meningkatkan nilai jual kota dan kesejahteraan masyarakat yaitu dengan mengembangkan sektor pendidikan, ekonomi dan kesehatan.

Sebenarnya, Bukittinggi memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi siapapun, baik yang hanya sekedar ingin berkunjung, berwisata, berbisnis, bahkan berinvestasi. Merujuk dari 4 sektor tadi, sangat-sangat berkaitan dalam rangka membangun dan mengembangkan potensi yang ada di Kota Bukittinggi.

Sebagai contoh, destinasi pariwisata kota Bukittinggi lebih menonjol kepada destinasi peninggalan sejarah, didukung udara yang sejuk, disitu ada unsur pendidikan bagi para wisatawan yang ingin mengetahui sejarah. Dengan infrastruktur kota saat ini, terasa masih kurang memadai untuk menunjang sektor ini. Namun jika hal itu terpenuhi akan berdampak baik terhadap sektor ekonomi, serta terwujud jasmani dan rohani masyarakat yang sehat di Kota Bukittinggi.

Untuk membangun potensi kota Bukittinggi yang luasnya hanya sekitar 25 Km, bisa merujuk dari 4 sektor yang sudah dimiliki. Masyarakat bersama Pemerintah Kota tinggal mengelola dan mengembangkan potensi ini dengan sistem yang baik sehingga bisa sama-sama merasakan keuntungan alamnya.

Tentunya, untuk kota yang didaulat sebagai kota pariwisata harus memiliki rasa nyaman dan aman bagi siapapun. Ada rasa nyaman saat menikmati alam, objek wisata, kuliner atau berinteraksi dengan masyarakat, serta nyaman dengan fasilitas pendukung yang ada, lalu ada rasa aman tanpa ‘dihantui’ gangguan dari seseorang atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah 4 sektor ini sudah menjadi buah pemikiran bagi masyarakat secara luas dan khususnya Pemerintah Daerah sebagai Aset Kota Bukittinggi yang perlu dikelola dengan baik serta didukung dengan fasilitas-fasilitas yang memadai?

(Gusrizal Dt. Salubuak Basa, Praktisi Pendidikan & Mantan Staf Ahli Walikota Bukittinggi 2010-2012)