Headline

Siswa dan Guru Honor Sekolah Non Formal Perlu Perhatian Pemerintah

Blusukan Marfendi di Kelurahan Tigobaleh bersama Tim PKS Bukittinggi

Bukittinggi – Melalui pintu ke pintu rumah warga, masih jadi andalan pasangan calon kepala daerah atau Calon Walikota dan Wakil Walikota Bukittinggi, Erman Safar dan Marfendi dalam rangka kampaye Pilkada Tahun 2020.

Aspirasi bahkan rintihan masyarakat Kota Bukittinggi, selalu ditemui oleh Calon Wakil Walikota Bukittinggi, Marfendi saat melakukan blusukan kampaye yang didampingi oleh 3 orang anggota DPRD Kota Bukittinggi yakni, Ibnu Aziz, Syaiful Efendi dan Arnis serta Tim PKS Kota Bukittinggi,
di wilayah Kapalo Koto, Tigobaleh, Kelurahan Pakan Labuah, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh, Kota Bukittinggi, pada hari Sabtu, (21/11).

Salah satunya Santi, (nama samaran), warga Kapalo Koto, menyampaikan aspirasinya kepada Marfendi saat blusukan. Menurut Santi, di Sekolah Non Formal masih juga butuh perhatian Pemerintah dari segi sarana dan prasarana untuk menunjang sistem belajar mengajar serta honorarium yang pantas bagi para guru honor.

Mengapa saya ungkapkan demikian, lanjut Santi yang juga selaku Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), menambahkan, “Anak-anak didik kami adalah kebanyakan anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis dan keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Usia mereka yang ikut sekolah non formal mulai dari 7 tahun hingga 25 Tahun.”

Mereka rata-rata putus sekolah karena keadaan, sehingga harus ikut Paket A, B dan C. Harapan kami, bagi anak-anak yang sekolah non formal dapat ditingkatkan fasilitas praktek setelah mereka belajar teori ketrampilan. Sekolah kami memang punya Labor namun ketika mau praktek kita selalu menunggu Dana Bantuan Operasipnal Pusat (BOP). Khusus untuk siswa Paket C, Kalau tida ada BOP sulit untuk melakukan kegiatan praktek.

Lalu kata Santi, beragam materi ketrampilan yang telah kami ajarkan kepada siswa dalam Paket C. Harapan kita kalau dapat langsung terjun ke dunia kerja. Namun, itulah kelemahan kita, belum bisa menyalurkan keahlian mereka setelah mereka lulus.

Kalau bisa, Pemerintah berikutnya dapat memfasilitasi anak-anak yang lulus, sehingga mereka bisa bekerja di perusahaan sekalipun perusahaan kategori kecil atau menengah. Dampaknya, mereka bisa mengaplikasikan keahliannya di dunia kerja, mendapatkan penghasilan bukan menjadi pengangguran.

Selain itu menurut Santi, tenaga pengajar kategori Tutor mohon ditingkatkan kesejahteraannya dan penambahan tenaga pengajar kategori Pamong. Sementara anak didik kami itu lebih dari 200 orang. Saya rasa untuk sekolah-sekolah non formal lainnya, kurang lebih kendalanya sama.

 

Menanggapi hal tersebut, Marfendi mengatakan, “Kita merasakan itu adalah beban berat bagi para Guru. Sudah ada dalam program kerja kami untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, termasuk kesejahteraan para gururu khususnya guru honor. Mudah-mudahan dengan doa kita bersama, jika Erman Safar-Marfendi terpilih, akan kita prioritaskan masyarakat yang memiliki beban kerja yang berat itu.” (rir)